Perjuang Melawan Kekuasaan Kolonial Sebelum Tahun 1908

Penulis: Muhamad Ikhsan
21 Juli 2022 04:27

Perjuangan melawan penjajah telah dilakukan sejak awal datangnya bangsa Belanda ke Nusantara. Perjuangan tersebut sebelum berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908 masih bersifat kedaerahan. Hal ini berarti belum ada ide untuk menyatukan perjuangan membentuk sebuah negara yang merdeka. Selain itu, gagasan perihal nasionalisme juga belum tersebar dan mempengaruhi para pejuang di daerah untuk menyatukan kekuatan demi mendirikan sebuah negara yang bersatu.  

Pemberontakan yang memiliki tujuan membebaskan diri dari kekuasaan Kolonial Belanda terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Dalam artikel ini kita akan membahas beberapa pemberontakan yang besar dan berpengaruh dalam sejarah di Indonesia.

Perang Padri

Kepulangan para ulama setelah menempuh ibadah haji membawa pandangan baru terhadap agama Islam, tidak terkecuali di wilayah Sumatera Barat. Kepulangan kaum Padri/ulama yang membawa ajaran agama Islam secara puritan menganggap ajaran Islam yang selama ini dilakukan di Sumatera Barat merupakan sebuah penyimpangan. Puritanisme sendiri merupakan paham yang berusaha untuk membersihkan/memurnikan ajaran agama dari unsur-unsur yang dianggap menyimpang.

Melihat penyimpangan seperti judi, sabung ayam, dan minuman keras yang dilakukan kaum Adat. Kaum Padri kemudian berupaya menghilangkan kebiasaan tersebut. Merasa tidak terima dengan perlakuan tersebut maka terjadilah Perang Padri pertama pada tahun 1803-1821 antara Kaum Adat dan Kaum Padri. Perang pun dimenangkan Kaum Padri.

Kekalahan Kaum Adat dimanfaatkan Belanda untuk bekerja sama melawan Kaum Padri. Strategi ini ternyata merupakan upaya Belanda memecah belah kekuatan di Sumatera Barat. Kemudian Perang Padri kedua berlangsung pada 1821-1838.

 Tokoh dari Kaum Padri yaitu Tuanku Imam Bonjol kemudian menyadarkan Kaum Adat bahwa mereka sebenarnya dipermainkan oleh Belanda. Pada akhirnya Kaum Adat dan Kaum Padri bersatu melawan Belanda namun tetap mengalami kekalahan serta. Kemudian pemimpin Kaum Adat yaitu Tuanku Imam Bonjol diasingkan ke Cianjur, Ambon, dan Manado hingga wafat pada 6 November 1864.

Pusara Tuanku Imam Bonjol di Manado (sumber:celebes.co)

Perang Pattimura

Kapitan Pattimura dalam perangko edisi tahun 1961. (sumber:wikipedia.com)

Belanda yang memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku membuat rakyat sengsara dan hidup serba kekurangan. Hal ini karena Belanda memaksa rakyat menanam dan hanya boleh menjualnya kepada Belanda dengan harga murah.

Jika terjadi kelebihan produksi rempah akan dibakar oleh Belana sebagai upaya menjaga harga rempah agar tetap tinggi. Selain itu jika rakyat ketahuan menjual rempah-rempah ke pihak lain maka kapal pembawa rempah tersebut akan dibakar oleh Belanda. Aksi tersebut kemudian dikenal dengan nama Pelayaran Hongi.

Pada tahun 1817 rakyat Maluku merasa muak dan mulai melakukan perlawanan yang dipimpin oleh Thomas Matulessy dan Christina Martha Tiahahu yang dikenal dengan Pattimura. Pertempuran kemudian pecah di Benteng Duurstede, Saparua. Perlawanan tersebut sayangnya berlangsung dengan penangkapan kedua tokoh tersebut.

Perang Diponegoro

Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh (Sumber: wikimedia.co)

Di Pulau Jawa, terjadi perang terbesar yang pernah dihadapi Belanda. Perang yang disebut juga Perang Jawa/Perang Diponegoro. Perang ini disulut oleh perbuatan Belanda yang measang patok-patok jalan di wilayah makam leluhur. Perang Jawa terjadi pada 1825-1830 yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.

Perang tersebut dilakukan menggunakan strategi gerilya. Demi menghentikan langkah pasukan gerilya, pada tahun 1827 pasukan Belanda melakukan strategi Benteng Stelsel yang dilakukan dengan membangun benteng-benteng untuk mempersempit pergerakan pasukan gerilya.

Selain strategi Benteng Stelsel, Belanda berupaya menjebak Pangeran Diponegoro dengan mengadakan perundingan. Dalam perundingan tersebut Pangeran Diponegoro justru ditangkap pada 28 Maret 1830.

Perang Jagaraga Bali

Ilustrasi Perang Jagaraga di Bali (sumber:delpher.nl)

Perang Bali terjadi karena Belanda memprotes hukum di Bali yaitu Hak Tawan Karang. Hak Tawan Karang merupakan peraturan yang membolehkan kerajaan-kerajaan di Bali untuk merampas kapal asing dan muatannya yang terdampar di Bali.

Belanda kemudian berupaya menaklukkan kerajaan-kerajaan di Bali dengan mendatangkan pasukan ke sana. Perang Bali kemudian terjadi pada tahun 1846 ketika Belanda menyerang Kerajaan Buleleng. Perang Bali dipimpin oleh I Gusti Ktut Jelantik dengan strategi perang puputan (perang habis-habisan) untuk melawan pasukan Belanda. Perang ini berakhir ketika Kerajaan Buleleng mengalami kekalahan dari Belanda.

Perang Banjar

Pangeran Antasari (Sumber: katadata.com)

Di wilayah Kalimantan, tepatnya wilayah Banjar, Belanda berupaya menguasai kekayaan alam di sana. Demi menguasai wilayah Banjar, Belanda berusaha mempengaruhi kesultanan Banjar. Campur tangan Belanda tersebut membuat Pangeran Hidayatullah dan Pangeran Antasari melakukan perlawanan terhadap Belanda pada tahun 1859. Perang ini akhirnya berakhir dengan kemenangan Belanda. Kemudian Pangeran Hidayatullah dibuang ke Pulau Jawa yaitu wilayah Cianjur pada 3 Maret 1862. Pangeran Antasari kemudian tetap melakukan perlawanan hingga wafat pada 11 Oktober 1862.

Perang Aceh

Christian Snouck Hurgronje (Sumber: wikipedia.com)

Traktat Sumatera pada tahun 1871 yang berisi bahwa Belanda dapat memperluas wilayah di Pulau Sumatera, salah satunya wilayah Aceh. Perluasan wilayah Belanda di Aceh tersebut mendapat perlawanan dari Teuku Cik Ditiro, Cut Mutia, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan Panglima Polim. Motivasi perlawanan tersebut didasarkan oleh motivasi keagamaan sehingga menyulitkan Belanda menguasai wilayah Aceh. Perang Aceh kemudian mulai berkobar pada 27 Maret 1873.

Belanda berupaya mendalami motivasi tersebut dan memecah persatuan rakyat Aceh. Kemudian dikirimlah Snouck Hurgronje untuk mendalami kondisi sosial dan budaya Aceh mulai Juli 1891 sampai 1892. Snouck Hurgronje sendiri merupakan seorang orientalis/ilmuwan yang mempelajari islam secara mendalam.

Kemudian Snouck Hurgronje berhasil menyusun laporan berisi kehidupan di Aceh. Laporan tersebut menyatakan bahwa perlawanan sebenarnya dimotori oleh ulama Islam dan bukan oleh Sultan.

Mengetahui fakta tersebut, Belanda kemudian menyasar serangan kepada ulama di Aceh. Penyerangan ulama tersebut kemudian berhasil memecah belah rakyat Aceh dan menggoyangkan stabilitas kekuatan rakyat.

Untuk menghadapinya, Belanda mengutus Snouck Hurgronje untuk meneliti budaya dan karakter rakyat Aceh. Ia menyarankan agar pemerintah Belanda menggempur pertahanan Aceh bertubi-tubi agar mental rakyat semakin terkikis, dan memecahbelah rakyat Aceh menjadi beberapa kelompok. Rakyat kemudian menyerah pada tahun 1904 dan Belanda mulai menguasai wilayah Aceh.

Perlawanan Rakyat Batak

Sisingamangaraja XII (Sumber: kompiasiana.com)

Di tanah Batak/Sumatera Utara perlawanan terhadap Belanda mulai terjadi ketika Belanda mulai berupaya menguasai wilayah tersebut dan melakukan penyebaran agama Kristen di sana. Sisingamangaraja XII kemudian memerangi upaya Belanda tersebut. Perang kemudian dikobarkan Sisingamangaraja XII pada 16 Februari 1878 dengan menyerang pos-pos Belanda.

Perang Batak kemudian berakhir pada 1907 ketika Belanda menangkap Sisingamangaraja XII di daerah Dairi. Penangkapan tersebut berjalan dengan alot karena Sisingamangaraja melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan hingga ia ditembak oleh pasukan Belanda.

Artikel Lainnya

Lihat Semua Artikel
Materi dan Pembelajaran SMA

Kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara (1)

21 Juli 2022 10:42
Sejarah Dunia

Memahami Revolusi Komunis Rusia Tahun 1917

21 Juli 2022 08:32
Sejarah Dunia

Memahami Revolusi Industri di Eropa

01 Juli 2022 04:05
Pengetahuan Umum

Memahami Liberalisme dan Sosialisme

01 Juli 2022 03:49
Sejarah Dunia

Mengenal Ideologi Nasionalisme dan Demokrasi

01 Juli 2022 11:04