Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia

Penulis: Muhamad Ikhsan
20 Mei 2022 02:54

Setelah era kerajaan Hindu-Buddha, mulai terdapat peralihan agama dalam masyarakat dan pihak kerajaan dengan masuknya agama Islam ke dalam kehidupan masyarakat. Artikel ini akan membahas kerajaan bercorak Islam di Indonesia.

Samudra Pasai

Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Nusantara. Kerajaan yang terletak di pantai timur Sumatera ini berdiri pada tahun 1128 masehi. Kerajaan Samudra Pasai berkembang karena sektor perdagangan yang didukung oleh keberadaan Selat Malaka yang strategis. Oleh karena itu kawasan Samudra Pasai menjadi pelabuhan transit dan tempat tinggal bagi para pedagang. Dalam kehidupan perdagangan, Kerajaan Samudra Pasai mencetak koin dinar emas dan mata uang keueh dari timah. Satu dinar memiliki nilai tukar sekitar 1.600 keueh.

Wilayah kerajaan Samudra Pasai. (Sumber: skul-id.com).

Seiring perkembangan waktu, Kerajaan Samudra Pasai menjadi pusat pembelajaran agama Islam di Nusantara pada awal abad ke-14 masehi. Pusat pembelajaran ini dilakukan dengan pembangunan pesantren dan sekolah islam/madrasah.

Kelahiran pelabuhan-pelabuhan baru mulai menggantikan dominasi Kerajaan Samudra Pasai dalam perdagangan di wilayah Semenanjung Malaya. Perekonomian di kerajaan tersebut semakin mengendur dan mengecilkan wilayah Samudra Pasai.

Foto naskah surat Sultan Zainal 'Abidin di Museum Negeri Aceh, Banda Aceh. (Sumber: mapesaaceh.com).

Aceh Darussalam

Di wilayah Aceh juga berdiri Kerajaan lain yaitu Kerajaan Aceh Darussalam. Kerajaan Aceh Darussalam didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada abad ke-16 masehi. Kerajaan ini berpusat di wilayah Kabupaten Aceh Besar. Kerajaan Aceh semakin besar ketika para pedagang muslim pindah dari Malaka menuju Aceh ketika wilayah Malaka dikuasai Portugis. 

Keadaan tersebut juga membuat Portugis berupaya menguasai Kerajaan Aceh. Usaha tersebut tidak berhasil dilakukan pada tahun 1521 karena tidak bisa mengalahkan pasukan Sultan Ali Mughayat Syah. Kemudian pada tahun 1524 Kerajaan Aceh Darussalam berhasil menguasai Samudra Pasai.

Kerajaan ini mengalami kejayaan pada masa Sultan Iskandar Muda. Saat itu wilayah Kerajaan Aceh mencapai Sumatera Utara, Riau, hingga Jambi. Penguasaan tersebut berkat kekuatan pasukan angkatan laut Kerajaan Aceh. Sultan Iskandar Muda juga meninggalkan kejayaan berupa Masjid Baiturrahman yang dibangun pada 1622 masehi.

Sultan Iskandar Muda. (Sumber: abulyatama.ac.id).

Wafatnya Sultan Iskandar Muda memberikan petaka bagi Kerajaan Aceh. Belanda dan Inggris yang berusaha menguasai Aceh melihat bahwa terjadi penurunan kualitas kepemimpinan dan mulai menguasai wilayah-wilayah tersebut. Usaha Belanda menguasai Aceh kemudian berhasil dilakukan pada tahun 1903 dengan menyerahnya Sultan Muhammad Daud Syah. 

Demak

Kesultanan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Kerajaan yang berdiri pada abad ke-16 masehi ini memiliki wilayah kekuasaan di Pantai Utara Jawa. Kesultanan Demak berkembang dengan melihat kemunduran Kerajaan Majapahit dan membuat wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit melepaskan diri dan bergabung dengan Kesultanan Demak.

Masjid Agung Demak (Sumber: kuyou.com).

Kesultanan Demak melihat bahwa penguasaan Malaka oleh Portugis pada tahun 1511 mengancam eksistensi Kesultanan Demak. Oleh karena itu Kesultanan Demak mengutus pasukan pimpinan Adipati Unus ke Malaka pada tahun 1512-1513 masehi untuk membantu memerangi Portugis. Usaha tersebut sayangnya gagal karena pasukan Adipati Unus kekurangan perbekalan dan kalah secara persenjataan. Namun jasa Adipati Unus terus diingat dengan pemberian julukan Pangeran Sabrang Lor/ pangeran yang menyebrang ke lor atau utara.

Pada masa kekuasaan Sultan Trenggono, Kesultanan Demak berhasil memperluas kekuasaan ke seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kerajaan Demak kemudian berusaha menguasai Banten dengan mengirim Fatahilah menyerang wilayah tersebut. Fatahillah juga menyerang Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon pada tahun 1522 untuk menghilangkan kekuasaan Portugis.  Usaha tersebut membuahkan hasil ketika pada tahun 1527 Fatahillah berhasil mengalahkan Portugis dan merebut Sunda Kelapa dan mengganti nama wilayah tersebut menjadi Jayakarta. Tahun tersebut juga menjadi kelahiran Kota Jakarta, loh.  

Banten

Di ujung barat Pulau Jawa, Kerajaan Banten berdiri sekitar tahun 1552. Wilayah kekuasaannya meliputi bagian barat Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Barat. Kemunculan kerajaan ini berhubungan dengan pengaruh Demak. Sultan Trenggana memberi hadiah berupa wilayah kerajaan kepada Maulana Hasanuddin (putra Fatahillah). Banten kemudian menjadi kerajaan yang mandiri seiring melemahnya Demak. Lokasi Banten strategis karena di sekitar Selat Sunda dan Laut Jawa, sehingga memungkinkan munculnya pelabuhan-pelabuhan besar untuk perdagangan. Banten menjadi kerajaan maritim yang terbuka, dengan kedatangan para pedagang asing dari Arab, Turki, Tiongkok, India, Melayu, Portugis, dan Belanda. Komoditas penting yang diperdagangkan di kerajaan Banten adalah lada. Lada banyak dihasilkan di Lampung dan Sumatra Selatan yang merupakan vassal kerajaan Banten. Adapun Kalimantan Barat merupakan penghasil berlian. Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, Banten mencapai puncak kejayaan. Kejayaan Banten juga dapat menandingi VOC dalam perdagangan di Selat Sunda dan Laut Jawa.

Masjid Agung Banten di kawasan Banten Lama. (Sumber: langit7.id).

Ternate

Kerajaan Islam juga tersebar di wilayah Indonesia Timur, salah satunya di Kepulauan Ternate dan Tidore di wilayah Maluku Utara. Kerajaan Ternate merupakan produsen cengkeh untuk berbagai wilayah seperti Banten, Jawa, Makassar, Sumatra, dan wilayah lain. Persinggungan antara kekuatan Kesultanan Ternate dan Tidore pernah terjadi di wilayah Ternate. Kesultanan Ternate memimpin Uli Lima yang terdiri dari lima penguasa Ternate dan Kesultanan Tidore yang memimpin Uli Siwa yang terdiri dari sembilan penguasa Tidore.  Persinggungan kekuatan juga terjadi akibat hasutan Portugis dan Spanyol di kedua kesultanan tersebut. Portugis kemudian mendukung Kesultanan Ternate dan Tidore mendukung Kesultanan Tidore.

Ilustrasi Istana Kesultanan Terate. (Sumber: amiinkubah.com).

Gowa-Tallo (Makassar)

Kesultanan Gowa-Tallo didirikan dari penyatuan sembilan wilayah yang disebut bate salapang oleh Pancalaya (ketua dewan adat). Mereka kemudian mendirikan Kerajaan Gowa-Tallo dengan raja pertama yaitu Raja Tumanurung. Pengaruh Islam mulai datang di wilayah tersebut pada masa Raja kesepuluh yaitu Karaeng Tunipallangga Ulaweng. Agama Islam mulai dianut sebagai agama resmi ketika Raja Gowa ke 14 yaitu I Mangarangi Daeng Manrabia atau dikenal sebagai Sultan Alauddin. Masyarakat Bugis/Makassar mulai dikenal dalam pelayaran Nusantara pada abad ke-16 masehi. Kerajaan ini mengadopsi sistem barter dengan menjual rempah-rempah untuk ditukarkan dengan komoditas seperti beras, tekstil, garmen dan lainnya dari Jawa dan Malaka.

Sultan Hasanuddin, Sultan Gowa-Tallo (sumber: arsy.com)

Artikel Lainnya

Lihat Semua Artikel
Materi dan Pembelajaran SMA

Kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara (1)

21 Juli 2022 10:42
Sejarah Dunia

Memahami Revolusi Komunis Rusia Tahun 1917

21 Juli 2022 08:32
Sejarah Dunia

Memahami Revolusi Industri di Eropa

01 Juli 2022 04:05
Pengetahuan Umum

Memahami Liberalisme dan Sosialisme

01 Juli 2022 03:49