Kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara (1)

Penulis: Muhamad Ikhsan
21 Juli 2022 10:42

Nusantara yang merupakan wilayah strategis sejak dahulu mengadakan kontak dengan kebudayaan lain, salah satunya adalah kebudayaan India dengan agama Hindu-Buddha. Kontak kebudayaan tersebut dapat dilacak dengan peninggalan masa lalu berupa wilayah yang berbentuk kerajaan dan sudah beragama Hindu-Buddha. Artikel ini akan membahas kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara.

Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu-Buddha pertama di Nusantara. Keberadaan Kerajaan Kutai diketahui berdasarkan Prasasti Yupa yang diperkirakan berasal pada abad ke-4 masehi. Yupa merupakan tugu batu yang berisi informasi penting kerajaan. Yupa dituliskan dalam bahasa Sansekerta karena bahasa tersebut merupakan bahasa yang lazim digunakan kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Nusantara.

Prasasti Yupa berisi informasi bahwa Kudungga merupakan pemimpin pertama Kerajaan Kutai. Dalam masa Kudungga, terjadi perubahan struktur pemerintahan dari sistem kesukuan/kelompok kecil menjadi sistem kerajaan.

Setelah Kudungga wafat, kekuasaan dilanjutkan kepada Aswawarman selaku putra Kudungga. Setelah masa Aswawarman, pemerintahan dilanjutkan oleh Mulawarman. Diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Posisi wilayah Kerajaan Kutai yang merupakan jalur perdagangan internasional menjadikan wilayah ini sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan.

Selain memuat silsilah raja, Prasasti Yupa merupakan tugu peringatan upacara kurban. Hal ini diketahui karena kata vaprakecvara memiliki arti lapangan luas untuk pemujaan. Upacara ini banyak dilakukan oleh pemeluk Hindu aliran Siwa dan disimpulkan bahwa agama Kerajaan Kuta adalah Hindu Siwa.

Beberapa artefak yang ditemukan dalam penggalian tersebut di antaranya:

  • Prasati Yupa
  • Gamelan Gajah
  • Meriam
  • Kalung Uncal
  • Ketopong Sultan
  • Kalung Ciwa
  • Arca Bulus
  • Tali Juwita
  • Pedang Sultan Kutai
  • Kura-kura Emas

Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan Tarumanegara merupakan kerajaan yang berada di sekitar kawasan Pantai Utara Jawa Barat. Kerajaan Tarumanegara diperkirakan membentang dari Banten, Jakarta, hingga Cirebon. Kerajaan Tarumanegara diketahui berkembang pada masa pemerintahan Raja Purnawarman di abad ke-5 masehi. Meskipun berada di kawasan pesisir, rakyat Kerajaan Tarumanegara kebanyakan berprofesi sebagai petani.

Pernyataan mengenai kegiatan pertanian masyarakat disebutkan dalam Prasasti Tugu. Prasasti Tugu menyatakan bahwa Raja Purnawarman membangun proyek irigasi besar dengan cara menggali sungai sepanjang 6.122 tumbak atau sekitar 11 kilometer. Sungai ini kemudian disebut Sungai Gomati/Candrabhaga.

Sungai tersebut memiliki manfaat besar bagi masyarakat sebagai sumber pengairan ladang pertanian. Sungai menjadi saluran perdagangan kapal-kapal sekitar yang mempercepat aktivitas perekonomian. Bukti lain keberadaan Raja Purnawarman adalah Prasasti Ciaruteun yang merupakan telapak kaki Raja Purnawarman yang dianggap sebagai perwujudan Dewa Wisnu sang pemelihara dunia.

Diketahui juga bahwa kerajaan ini telah menjalin hubungan baik dengan Cina pada masa Dinasti Tang. Pernyataan ini dibuktikan dengan catatan pendeta Fa Hsien yang terdampar di Pulau Jawa pada tahun 414 masehi. Dalam catatan tersebut dikatakan bahwa masyarakat telah memeluk agama Hindu, Buddha maupun animisme.

Beberapa prasasti masa peninggalan Kerajaan Tarumanegara antara lain:

  • Prasasti Kebon Kopi di Bogor
  • Prasasti Jambu di Bogor
  • Prasasti Muara Ciaten di Bogor
  • Prasasti Tugu di Jakarta
  • Prasasti Awi di Leuwiliang
  • Prasasti Munjul di Banten

Kerajaan Kalingga

Berdasarkan berita Cina dari Dinasti Tang, Kerajaan Kalingga atau Holing memiliki letak di wilayah Keling, Jepara, Jawa Tengah. Kerajaan ini memiliki wilayah kekuasaan hingga Po-Li (Bali) di bagian timur, To-Po-Teng (Sumatera) di sebelah barat, Ta-Hen-La (Kamboja) di sebelah utara, dan wilayah selatan berbatasan dengan Samudra.

Raja yang paling terkenal di Kerajaan Kalingga adalah Ratu Sima yang memerintah pada sekitar tahun 674 masehi. Konon Ratu Sima terkenal karena ketegasan dan kejujuran. Ketegasan tersebut tercermin dari hukum yang tidak pandang bulu di semua kalangan. Sikap tersebut membuat dirinya dihormati rakyat.

Mayoritas rakyat Kalingga memeluk agama Buddha. Hal ini diperoleh dari berita I-Tsing pada tahun 665 masehi dirinya, kawannya bernama Hui-Ning, dan seorang asisten bernama Yuki pergi menuju Kalingga untuk menerjemahkan kitab suci Buddha dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Cina.

Dalam kegiatan ekonomi masyarakat Kalingga mengandalkan mata pencarian sebagai petani dan pedagang. Kerajaan ini mengalami kemunduran pada 742-755 masehi akibat serangan Kerajaan Sriwijaya. Akibat serangan ini Kerajaan Kalingga mengungsi hingga ke wilayah pedalaman Kijen.

Beberapa prasasti masa peninggalan Kerajaan Kalingga antara lain:

  • Prasasti Tukmas
  • Prasasti Sojomerto
  • Candi Angin
  • Candi Bubrah

Artikel Lainnya

Lihat Semua Artikel