Era Pleistosen dan Holosen

Penulis: Muhamad Ikhsan
14 Juni 2022 02:09

Era Pleistosen

Pleistosen berasal dari bahasa Yunani, pleīstos artinya "paling" dan kainós artinya "baru". Zaman pleistosen adalah zaman paling baru. Hewan pada pleistosen banyak ditemukan mamalia besar yang jauh lebih besar dibandingkan turunannya sekarang.

Pleistosen disebut juga zaman es. Era ini adalah zaman geologis yang berlangsung pada 2,6 juta sampai dengan 11 ribu tahun yang lalu mencakup periode glasial ketika mulai muncul manusia purba. Pleistosen merupakan zaman pertama dari Periode Kuarter atau era keenam dari zaman Kenozoikum.

Pembabakan Era Pleistosen

Berdasarkan ICS (International Commission on Stratigraphy, Pleistosen dibagi menjadi empat zaman yaitu

  • Gelasian (2,6 juta hingga 1,8 juta tahun yang lalu) - pleistosen awal.
  • Calabrian (1,8 juta hingga 780.000 tahun yang lalu) - pleistosen awal.
  • Chibanian/Ionia (780.000 hingga 126.000 tahun yang lalu) - pleistosen tengah.
  • Tarantia ( 126.000 hingga 11.700 tahun yang lalu) - pleistosen akhir.

Namun para peneliti berpendapat bahwa tahapan zaman pleistosen dibagi menjadi tiga zaman antara lain:

  • Pleistosen Awal (lapisan bawah)
  • Pleistosen Tengah
  • Pleistosen Akhir (lapisan atas)

Perubahan iklim pada awal kala pleistosen merupakan faktor utama munculnya zaman ini. Dampak paling besar mempengaruhi kehidupan hewan dan tumbuhan karena kurangnya pasokan makanan disebabkan suhu turun drastis.

Penemuan Purbakala di Indonesia

Zaman Pleistosen Awal

Zaman pleistosen awal atau disebut juga lapisan bawah menurut peneliti dalam menentukan tanggal penggalian. Ras manusia purba yang hidup pada zaman pleistosen awal yaitu Meganthropus Paleojavanicus (manusia raksasa dari jawa). Fosil manusia purba yang ditemukan pada lapisan pleistosen bawah yaitu Pithecanthropus mojokertensis yang ditemukan di Jetis, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Zaman Pleistosen Tengah

Zaman pleistosen tengah telah hidup manusia purba jenis Homo erectus (manusia berjalan tegak) atau Pithecanthropus erectus. Di tempat lain, yaitu Tiongkok juga ditemukan jenis manusia pirba yang sama, dikenal dengan sebutan Pithecanthropus pekinensis (manusia peking).

Zaman Pleistosen Akhir

Pada zaman pleistosen akhir di Indonesia diperkirakan telah hidup manusia purba dengan kebudayaan yang lebih maju, yaitu Homo soloensis dan Homo wajakensis. Pada zaman tersebut manusia purba telah mengalami perkembangan secara biologis dan kemampuan membuat peralatan.

Ciri-ciri Era Pleistosen

  • Terjadi proses glasiasi, yaitu pendangkalan dan lautan ditutupi lapisan es. Keadaan ini memungkinkan hewan dan manusia purba bermirgrasi ke tempat yang jauh.
  • Terjadi proses interglasiasi, yaitu pencairan kembali es. Keadaan tersebut membuat hewan tertentu terisolasi dan mengalami pengerdilan sebagai bentuk adaptasi lingkungan.
  • Terjadi aktivitas endogen (tenaga yang berasal dari dalam perut bumi).
  • Terjadi aktivitas eksogen (tenaga yang berasal dari luar permukaan bumi).

Pada zaman pleistosen wilayah indonesia sebelah barat (Jawa, Sumatera, Kalimantan) pernah menyatu dengan benua Asia. Sedangkan kepulauan dibagian timur Indonesia menyatu dengan benua Australia. Penyebab hal tersebut disebabkan oleh suhu dingin yang ekstrim dan mengakibatkan antar pulau Indonesia menyatu oleh es. Banyak hewan peralihan datang ke Indonesia dari Asia ataupun Australia.

Era Holosen

Era holosen adalah zaman geologis yang dimulai setelah periode glasial terakhir pada 11 ribu tahun lalu sampai pada era saat ini. Penamaan Holosen berasal dari bahasa Yunani Kuno, holos artinya "seluruh" dan kainos artinya "baru" adalah zaman sepenuhnya baru.

Zaman holosen (Alluvium) ditandai dengan berakhirnya zaman es, dimana kepulauan Indonesia kembali terpisah dari Benua Asia dan Australia. Kala ini merupakan berkembangnya kehidupan manusia modern. Sejak terakhir dasawarsa mengenai eksplorasi tentang jejak-jejak manusia dan budaya akhir pleistosen dengan awal holosen makin meluas.

Pada awal holosen pergantian dengan pletosen akhir ditandai dengan fluktuasi iklim yang mengakibatkan perubahan lingkungan, paleografi dan sumber daya alam. Manusia dan hewan bermigrasi dari daratan Asia ke kepulauan Nusantara dan ke benua Australia. Pada periode holosen hadir manusia modern awal atau homo sapiens dengan ciri-ciri budaya yang khas yaitu membuat tempat hunian dari gua-gua alam. Homo sapiens memanfaatkan sumber daya alam untuk bertahan hidup. Homo sapiens diketahui telah tersebar luas sampai ke Benua Australia dan Melanesia barat.

Zaman holosen adalah zaman paling muda diantara yang lain, menurut usia bumi. Kondisi iklim di Indonesia pada saat terjadi proses interglasial holosen (terjadinya pencairan es yang menyebabkan air laut naik) mengalami peningkatan suhu yang signifikan pada kurun waktu 10 ribu hingga 6 ribu tahun yang lalu permukaan laut mencapai ketinggian 3 meter dari tinggi dari permukaan air laut sekarang.

Pada zaman holosen peristiwa pergerakan lempeng bumi telah mengalami pengurangan dan cenderung stabil. Hal ini dapat menjadi kajian dalam meneliti keadaan kondisi bumi di waktu yang lalu. Catatan sejarah suhu dan kondisi gas di atmosfer tersimpan di struktur cincin pohon, sedimen laut, karang es, koral dan sedimen danau. Peneliti dapat mengukur penanggalan paling tepat untuk mengetahui karakteristik kala holosen.

Ciri-Ciri Era Holosen

  • Interglasiasi, pencairan es yang terjadi pada peralihan antara akhir pleistosen dengan awal holosen.
  • Kenaikan air laut yang disebabkan mencairnya es di kutub.
  • Pergerakan lempeng bumi mulai berkurang.
  • Mulai stabilnya iklim bumi
  • Manusia mulai mendominasi kehidupan.

Kondisi Tumbuhan dan Hewan Era Holosen

Tumbuhan dan hewan pada holosen ini tidak banyak berevolusi karena zaman holosen memiliki kurun waktu masih singkat. Hewan yang hidup di pulau-pulau kecil hidup terasing dan waktu demi waktu akan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Manusia awal modern atau disebut juga homo sapiens adalah nenek moyang kita manusia modern. Mereka mencari lokasi untuk bertempat tinggal pada awalnya di hilir sungai dan berkembang budaya manusia, berburu ataupun meramu. Selanjutnya mereka berpindah ke pedalaman hutan dan daratan yang lebih tinggi untuk hidup menjadi penetap, berternak dan berladang serta bertukar hasil dengan kelompok lain. Pemukiman di darat (pedalaman) lebih cepat berkembang karena dengan pertanian merupakan kegiatan yang lebih aman dan nyaman.

Peninggalan dan Kehidupan Era Holosen

Peninggalan pada zaman holosen antara lain: peralatan yang terbuat dari batu, kapak perimbas dan alat dari tulang ataupun tanduk. Hasil budaya tersebut merupakan bukti peradaban manusia pada awal holosen dimana manusia hidup secara berkelompok dengan bertahan hidup atau mencari makanan dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan.

Corak kehidupan pada awal holosen dengan memanfaatkan sumber daya alam, melakukan perburuan dan mengumpulkan bahan makanan (seperti umbi-umbian, kerang dan lain-lainnya). Manusia sudah mengenal tempat tinggal dan hidup mulai menetap dengan memanfaatkan gua-gua alam. Penemuan gua di Indonesia yang pernah ditinggali oleh peradaban manusia awal holosen seperti contoh gua di wilayah Gunung Tukum, Lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya. Kegiatan yang pernah dilakukan oleh manusia pada kala itu yaitu sebagai tempat penguburan, perbengkelan (pembuatan peralatan untuk keperluan hidup) dan hunian/permukiman.

Artikel Lainnya

Lihat Semua Artikel
Materi dan Pembelajaran SMA

Kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara (1)

21 Juli 2022 10:42
Sejarah Dunia

Memahami Revolusi Komunis Rusia Tahun 1917

21 Juli 2022 08:32
Sejarah Dunia

Memahami Revolusi Industri di Eropa

01 Juli 2022 04:05
Pengetahuan Umum

Memahami Liberalisme dan Sosialisme

01 Juli 2022 03:49